Thursday, January 19, 2017

Produktif #2

Post ini sebenernya sambungan dari post sebelumnya. Tapi karena gue takut (duilee takut) bakal kepanjangan buat dibaca makanya gue split gini.



Ok lanjut, ya. Sebenernya males banget gak sih ngomongin politik? Malesin lah. Politik itu salah satu topik yang paling males sekaligus paling menarik buat diomongin. Kenapa? Soalnya politik itu banyak intrik dan trik. Kalo bukan tukang sulap, agak susah terjun di dunia politik. Tapi ya sebenernya post gue sebelum ini, ujung-ujungnya bakal ngomongin politik.

Salah satu hot news di Indonesia, bukan Jakarta doang ya, adalah Ahok. Gausa gue jelasin lagi lah ya, hampir semua orang di Indonesia tau apa yang terjadi sama orang ini. Banyak banget artikel yang bahas soal dia. Di news portal mana aja, pasti ada dia. Pasti.

Menurut gue pribadi, Ahok bukan hanya seorang tokoh politik. Dia adalah gelombang, fenomena, tema, atau bahkan topik. Kalo di salah satu mata kuliah lo ada tugas suruh buat essay soal Ahok, banyak yang bisa lo bahas dari orang ini. Entah itu kinerjanya, latar belakangnya, perjalanan karirnya, sikap dan sifat dia, atau kejadian yang baru-baru ini menimpanya. Gue yakin banget bakal ada skripsi yang bahas soal Ahok. Coba deh, kalo lo disuruh bikin essay soal Fauzi Bowo. Kalo gue sih, bakal rada kesusahan mau nentuin topik bahasannya. Kalo gue, loh.

Untuk berbicara soal Ahok, ga harus jadi pemerhati politik atau cendekiawan dulu. Rakyat biasa,dari status sosial ekonomi manapun juga bisa. Siapa pun pasti bisa bicara entah baik atau buruk tentang dia. Gue sendiri sih, sebenernya suka sama ni orang. Gue intinya ada kebanggaan lah punya Gubernur kaya gini. Kenapa gue bisa sampe suka? Balik lagi ke paragraf pertama, gue sebenernya benci politik, tapi awal kemunculan doi jadi Wagub-nya Jokowi udah menarik perhatian. And you can tell how good someone is by your heart. Though heart can fools you or be blinded by love, ya (cielaa jadi curhat). My heart, which is, the most natural thinking ours can have, tell that he's a good man. Ini orang bener, nih. I never had such impression to others political figures nowadays. Sorry not sorry.

Tapi buat kebanyakan orang, ternyata jadi bener aja belum cukup. Seseorang harus bener-bener cukup. Cukup memenuhi ekspektasi masyarakat. Sedangkan masyarakat itu sendiri heterogen. Masyarakat yang mana yang harus dicukupi? Jelas yang mayoritas lah. Terus yang minoritas gimana?
Balik lagi, mayoritas itu belum tentu benar dan sebaliknya, minoritas belum tentu salah. Ga gampang jadi pemimpin yang benar dan jujur, tanpa bisa tegas sekalipun. Menegakan kebenaran itu butuh ketegasan. Kalo klemar-klemer (bahasa apa sih klemar-klemer) sih, bisa-bisa kesikut sama yang oportunis. Sebenernya paragraf ini bingungin sih, ga jelas topik utamanya. Karena gue susah mau bahas mana yang benar, mana yang salah. It's like be the two sides of the same coin. Menurut gue benar, menurut yang lain salah. Dan akan terus begitu sampai kiamat. Tapi intinya, itu yang bikin gue suka sama sosok Ahok. Kapan lagi punya pemipin kaya gini, kan.

Susah ternyata menuangkan pendapat yang netral sama sekali, pasti ada poin yang menitikberatkan pada suatu hal. Harapan gue sih, entar Ahok bakal dipenjara atau engga, semoga akan ada Ahok-Ahok lain di luar sana yang, sama benar, sama jujur, sama tegas dan sama-sama mau membangun Indonesia lebih baik lagi. Eaa

No comments:

Post a Comment