Thursday, January 19, 2017

Produktif #1

Let it be called a productive day of mine. Emang mustinya gini sih, kalo ada ide apa langsung tulis. 



So, i'm thinking about what we went through all in 2016. It's quite specific for us all Indonesians of course. Political atmosphere in 2016 wasn't good, you know. So tense. So here's my thought;

2016 adalah tahunnya para netizen, i can tell. Siapa sih netizen itu? Ya elo semua lah, para pengguna media sosial. Kenapa bisa gue bilang 2016 adalah tahunnya para netizen? Karena sepengelihatan gue para pengguna media sosial di tahun ini rame banget. Gue ga tau ya kalo elo, tapi di akun sosial media gue, itu yang gue liat. Timeline gue penuh sama opini orang, jauh lebih crowded dari biasanya. Sampe kadang temen yang jarang gue tahu kabarnya (karna jarang update di sosial media), kemarin muncul di timeline gue. Bahkan ya, ada orang-orang yang gue tahu bikin akun sosial media cuma buat ikut-ikutan berkomentar. Padahal sebelumnya mereka adalah orang-orang yang anti sosmed.

Para netizen itu sifatnya ibarat ada gula ada semut. Dimana yang rame aja, bahasa gampangnya. Dimana ada satu status/artikel pro (pro/kontra itu subjektif ya), dikomen habis-habisan.  Ada status/artikel kontra, dikomen hancur-hancuran. Menurut gue ini parah banget sih, karena buat gue status sosmed itu lebih ke pendapat personal. Yaiya gue tau itu sosial media, tapi apa perna denger yang namanya etika sosial media? Sama kaya elo semua yang berpikiran, 'loh ini kan pendapat gue!'. Jadi jangan ada rasa 'saya paling benar' di sosial media. Jangan serius-serius lah kalo main sosmed itu.  No judgement.

Apalagi ya, tahun 2016 adalah tahun paling rasis yang pernah gue alamin selama hdup gue 23 tahun ini. Setiap status di sosmed, pastiiiii ya, hampir dipastikan ada unsur agamanya. Entah itu ngebela, nyindir, atau netral sekalipun. Gue sebenernya ga peduli tentang kepercayaan yang mereka imani ya, itu hak segala bangsa. Bukan #kerenhaksegalabangsa ya. Tapi yang paling gue benci adalah ketika mereka beranggapan bahwa koar-koar di sosmed, jari mijit-mijit smartphone, dahi mendangak, mulut mencaci maki itu surga jaminannya. Gue percaya surga/neraka itu tergantung dari semua apa yang sudah lo kerjakan, terlepas dari agama apapun, ya. Pasti bakal ada aja nih, yang ngomong "Yaudah kalo gamau di komen gausa main sosmed". Kalo ada yang ngomong gitu lo jawab aja "Eh bego, komen juga tau bataslah. Yang namanya sosial itu bukan buat saling ngomenin doang, tp silaturahmi juga".  (maap kasar ya, gue suka ga tahan sama yang seiprit otaknya tapi gede omongan). Jadi please, semoga apa yang terjadi 2016 tetap berada di 2016. Jangan lagi terulang di 2017 (walopun gue tau 2017 bakal lebih 'panas' lagi).

No comments:

Post a Comment