Ini bukan adegan romantis di pilem-pilem, dimana sepasang kekasih dimabuk cinta tiduran menghadap langit memandangi bintang-bintang dan saling memungucap janji-janji dan ribuan kata cinta satu sama lain. Bukan sama sekali. Note it.
Hari itu, gue dan salah satu sahabat terbaik yang gue punya, tiduran memandangi langit-langit rumah yang usang. Ada sedikit bocor di sudut-sudutnya. Ada bagian yang sudah lapuk termakan usia dan cuaca. Diluar hujan sedang deras-derasnya. Dia berceloteh tentang apa saja, bernyanyi, bersenandung sambil memetik senar-senar gitarnya. Gue gamau ngerusak lagu dan suaranya yang (ehem) emang bagus, jadi gue diem aja.
Adegan-tiduran-berdua-menatap-atap ini selalu mengarahkan ke pembicaraan yang seharusnya tidak dibicarakan. Entah bagaimana caranya, sahabat gue ini selalu bisa bikin gue kepentok sama kata-katanya.
"Ga ada salahnya nunjukkin kalo lo lagi sedih, atau cerita kalo lagi ada masalah. Lo kan bukan robot, Sa"
"Tapi gue mau ko, jadi robot. Seneng ya ga terlalu seneng, jadi sedih juga ga bakal terlalu sedih"
"Mana bisa begitu. Gue kalo lagi ada masalah bawaannya mau ketawa, biar lupa. Tapi kalo masalahnya udah berat, baru gue menyendiri"
"Kalo gue, berat ga berat tetep gue keep sendiri"
"Nah itudia, itu yang bikin lo kesepian jadinya"
"Gue ga kesepian ko.....................cuma empty"
"Tau ko"
"Tau darimana, sotoy"
"Mulut itu bisa bicara apa aja, Sa. Tapi mata itu ga bisa boong"
Mata itu ga bisa bohong.
Rasanya kata-kata itu yang bikin gue pengen jatuh lagi. Setelah sekian lama gue bangkit dan berdiri lagi, kata-kata itu justru nyadarin gue bahwa gue ini belum sepenuhnya bangkit, tapi masih 'berusaha' untuk bangkit, berdiri, bahkan kalo bisa berlari jauh-jauh. Kata-kata 'mata itu gabisa bohong' mengingatkan gue akan those brown eyes yang selama ini bikin gue stay in this shitty shit of shitty circle in shitty condition. Like in those brown eyes, I saw my future in an instant.
Shit. Highest level of shit.
p.s; thankyou, Jay.
No comments:
Post a Comment