Hai.
Entah kenapa gue selalu kebingungan untuk mencari kata-kata pembuka di postingan gue. Hai. Apasih tiss. Ga banget. Kaya orang baru pertama kali taaruf-an. Yaudalah gausa dibahas, ga penting juga.
Gue ga tau sih mau bahas apa kali ini, gue cuma pengen nulis. Itu aja. Yang jelas, karna gue bukan seorang hipster dan penganut something mainstream, gue ga akan bahas soal masalah Indonesia - Australia. Jangankan soal sadap - menyadap or hackers about to hacking, komputer nge-hang atau modem ga konek aja gue cuma mengandalkan tombol F5 kalo ngga restart. Gue sama sekali ga berkawan akrab dengan sebutan-sebutan proxy, html, what-so-ever.
Ngomong-ngomong soal anti-mainstream, kalo diperatiin nih ya, lo pasti sering denger orang bilang "Ih gue mah anti-mainstream!".
Kebanyakan orang ngaku dirinya anti-mainstream, tapi justru itu yang membuat mereka terlihat mainstream.
Kebanyakan cowo bilang mereka dirinya beda dari cowo-cowo lain, tapi justru itu yang bikin mereka terlihat sama. Kata mba Anne Hathaway. (agak keluar topik sih ini)
Kalo lo ga percaya, coba lo dateng ke mall-mall gaul abis di Jakarta, lo bakal liat semua anak punya gaya yang sama. Entah kenapa semua cewe terlihat cantik, sampe-sampe di zaman sekarang ini udah gada 'takaran standar' untuk seorang cewe bisa dibilang cantik atau ngga.
Asal baju ngikut mode dan punya gadget yang memadai untuk punya aplikasi camera 360, voila! Jadilah cantik.
Praise the technology.
On the other hand, sayangnya, hard to say cowo-cowo jaman sekarang justru berbanding terbalik sama cewe-cewenya. Jaman sekarang, cowo kalo mau jadi artis pilihannya cuma dua; jadi keren abis atau ngga jadi banci abis. Stok cowo keren berbanding terbalik sama-cowo-keren-tapi-homo sekarang ini.
Coba lo itung berapa banyak cowo yang 'agak-agak' kalo di tv. Mungkin, jadi banci in front of camera kayanya lebih cepet ngangkat dan ngejual nama mereka dibanding jadi cowo yang biasa-biasa aja. Harus segitunya ya?
Analisis gue (ceilah tiss) mengarah kepada bahwa menjadi 'cowo-tanda-petik' mungkin akan mengangkat eksistensi mereka sendiri sebagai entertainer, karna akan dianggap lebih lucu, lebih rame dan menghidupkan suasana buat di satu program tv, dan mungkin juga berlaku buat di kehidupan sosial mereka. Analisis yang kedua (tae kali), bahwa ternyata orang-orang Indonesia adalah orang-orang yang haus akan humor dan lebih butuh hal-hal lucu (dalam hal ini si cowo tanda petik tersebut) dibanding hal-hal lain hingga cowo-tanda-petik akan selalu tinggi nilai jualnya. Dan kalo lo mau telaah lagi, hampir semua stasiun tv lokal punya acara lawak. Kadang gue ga tau harus prihatin atau bangga dengan sense of humor bangsa gue yang terlalu tinggi.
Kalo lo peka, lo akan sadar bahwa orang Indonesia itu selalu tertawa. Coba liat di tv kalo banjir, mesti ada aja yang ketawa-ketiwi sambil berenang di air kotor trus dadah-dadah ke kamera. Padahal itu sebuah gambaran sempurna sebuah ironi. Entah apa karna itu juga bangsa Indonesia dibilang sebagai 'Bangsa Teramah di Dunia'. Disini perbedaan ramah dan humoris terlihat tipis sekali. Karna gue ngerasa, antar sesama suku di Indonesia aja 'keramahan' itu belum terasa. Apa orang Indonesia hanya ramah kepada bangsa asing atau tidak, ya who knows sih? Lagian ini cuma celotehan mahasiswi-semester-5-yang-dari-sekian-banyak-tombol-F-di-keyboard-cuma-tahu-fungsi-tombol-F5. Gausa dipikirin, gue aja gatau kenapa bisa nulis gini.
Dadah.
p.s; awal sama akhir sama-sama kaku kaya keset sabut.
No comments:
Post a Comment