Saturday, January 25, 2014

You better believe it

Ini adalah sebuah pengalaman transendental yang gue alamin sendiri. Gue merasa pengalaman ini lebih mirip dengan sebuah dongeng, bedanya ini adalah sebuah kisah nyata. Mungkin sulit buat kalian untuk percaya sama pengalaman gue ini, tapi ga ada yang bisa gue bilang selain "this is the true story"

Gue awali cerita dengan kata-kata: 'Ada yang aneh dengan hari ini'. Pas gue bangun pagi-pagi, (well ok, ga pagi-pagi amat sih) tiba-tiba gue dibangunkan dengan suara deruan besar.Gue kira suara ujan gede, berhubung saat ini Jakarta lagi musim ujan. Tapi pas gue tegasin lagi, suara itu lebih tepat kaya suara mesin motor tua, yang agak dipaksakan untuk menyala. Otak gue yang masih beberapa persen berfungsi sempet berfikir 'jangan-jangan itu suara mesin pembuat hujan', tapi gue langsung menampik pikiran tersebut. Gue bukan hidup di zaman doraemon, gue pikir.

Gue langsung keluar kamar, dan mendapati seisi rumah gue diselimuti asap putih tebal. Oh shit, I'm already dead. Pada saat itu gue bener-bener berpikir bahwa jangan-jangan gue sebenernya udah meninggal, dan ini adalah alam diluar dunia yang selama ini gue tingalin. Jangan-jangan ini alam barzah. Gue shock. Gue takut. Apa bener semalem nyawa gue diambil sama malaikat pencabut nyawa, lalu gue dibangunkan oleh suara malaikat yang mirip deruan besar tadi (gue pernah nonton film, dimana ada adegan manusia yang meninggal ditanya-tanya sama malaikat tentang amal baik dan buruk, dan suara malaikat disitu persis kaya suara deruan petir dan kilat), dan sekarang gue dikelilingin asap putih yang tebal. Shit, gue belom tobat. Belom melakukan apa-apa yang berarti dalam hidup gue.

Ditengah-tengah ketakutan gue, gue mencoba menerobos asap putih tebal tersebut untuk mencari nyokap gue. Dengan mata disipit-sipitin, gue berjalan ditengah-tengah kabut asap tebal tersebut dengan hati-hati dan mengenali ternyata tempat tersebut masih rumah gue. Gue tau ini rumah gue walaupun sebagian besar asap tebal yang bergerumul itu menutupi hampir sebagian besar bagian rumah. Gue turun ke lantai bawah, ga ada satupun barang yang terlihat. Seisi lantai bawah yang gue lihat cuma asap putih. Nyokap gue ga ada dibawah. Gue lalu keluar menuju teras depan, nyokap gue juga ga ada. Gue berusaha mencari ke belakang rumah, tapi nyokap gue masih ga ada juga. Gue bener-bener di alam barzah, ga ada satu orang pun disini. 

Antara putus asa dan pasrah, gue duduk di bangku yang ada di teras depan. Mencoba berpikir jernih. Ngga mungkin nyawa gue udah dicabut. Gue manusia banyak dosa, kalo nyawanya dicabut pasti ngerasain sakit yang luar biasa saat malaikat mencabut nyawa gue. Gue masih diem, berpikir dan terus berpikir. Tapi ini semua ga masuk akal. Apa gue mimpi? Gue masih ngerasa sebelum gue bener-bener bangun ada suara nyokap teriak dari bawah bangunin gue "Tissaaaa, bangun udah siang!", lalu gue sempet jawab "Bentar lagi maaaah....". Lalu gue tidur lagi dan tiba-tiba muncul suara deruan besar tersebut. Oh shit, kalo bener gue meninggal, kata-kata terakhir yang gue ucapkan ke nyokap gue adalah sebuah kalimat bantahan. Surely i'm going to the hell rightaway

Tiba-tiba gue denger lagi suara deruan tadi, tapi rasanya suara itu ada di tempat yang jauh, lalu suara itu makin lama makin dekat dan semakin besar pula, makin dekat dan makin dekat sampai-sampai gue ngerasa suara itu menghampiri gue. Seiring dengan suara deruan yang makin besar itu, didepan teras rumah gue lewat bapak-bapak tua kumisan memakai semacam seragam tukang ledeng atau tukang listrik, dan dua orang ibu-ibu pake daster yang berjalan sambil membicarakan sesuatu yang sangat seru. Bapak-bapak berseragam tukang ledeng itu membawa sesuatu yang dikaitkan pada bahunya, seperti sebuah mesin atau malah lebih mirip senapan angin. Ternyata tukang fogging.

The end.

2 comments:

  1. sumpah ngeselin. lo tau muka gue uda tegang pas baca, eh pas dia akhir muka gue begini: -_______________-'

    ReplyDelete