That feeling on Sunday evening, when you don't know either to be ready for Monday or not.
Gue menemukan sebaris kalimat ini dalam buku yang sedang gue baca "A weird tough, but everything in front of me begins to seem unreal, as if a gust of wind could blow it all away" (Kafka on the Shore, Haruki Murakami).
Setelah membaca kalimat tersebut gue merasa bahwa Haruki Murakami tau apa yang sedang gue rasakan. Oke gue ga bilang bahwa doi nyama-nyamain pikiran gue (he's quite genius and who the hell am I here?), tapi seriously i found it undeniably true.
Gue adalah salah satu tipe orang yang ga begitu suka nonton tv, bahkan gue sering terganggu dengan suara film atau tv - you name it. Tapi 3 hari kemaren gue berturut-turut diem di rumah, menikmati semua waktu luang yang gue punya dan menghabiskan malem minggu dengan nonton Miss World dirumah berdua nyokap gue. Satu hal yang pikirkan saat nonton program tersebut adalah, itu manusia semua? CANTIK-CANTIK BANGET NYET.
Ga cuma program-yang-ngumpulin-manusia-bukan-bidadari-bukan-jadi-satu itu doang yang gue tonton, tapi hampir semua program tv. Dari mulai acara musik pagi-pagi, gossip (yeah), berita, talk show sampe acara lomba masak, dimana pesertanya berasal dari kalangan chef dan jurinya adalah chef-chef (yang kayanya) profesional tapi sayangnya mukanya ga seenak masakannya. Dari semua itu gue menyadari satu hal, bahwa semua yang gue tonton di tv itu fake. Terlebih parah lagi gue jarang nemuin program tv yang educated, semua hanya untuk kepentingan komersil.
Gue ngerasa bahwa hal-hal yang gue liat di jalanan-jalanan ibukota, seperti waktu gue melihat seorang mahasiswi membantu seorang nenek-nenek menyebrang jalan, padahal gue sendiri pun melihat kecemasan pada raut mukanya saat sedang menyebrang, atau seperti saat gue melihat nenek-nenek pengemis di jalanan dekat kampus gue sedang memberi makan yang ia punya dengan seekor kucing. Gue merasa hal-hal itu lebih real ketimbang artis-atau-pejabat-siapapun-itu yang ngasih santunan ke anak yatim. Bukan berarti gue ngga appreciate sama apa yang udah mereka buat, but i feel there's something motivated them to do that. Because there's a camera. Because they know they're gonna be watched by thousand people. They seem nice, but they're also hoping something else from their kindness. I do not know what is that - but certainly it's something they hope people think they are.
Semakin kesini gue semakin menyadari bahwa tv adalah salah satu alat untuk membodohi masyarakat. They give our children bad consumption, and the most important is, they keep making dumb people famous. That's why gue lebih seneng baca buku daripada nonton tv. Dan satu hal lagi, buku membuat imajinasi kita berkembang dan pikiran kita bekerja, ngga cuma sekedar dicekokin gambar-gambar ala kadarnya dalam benda kotak tersebut. Gue meyakini satu hal, real things always end up frameless.
I should stop being so sarcastic and start doing my asshitments, and my apology for all 'Grammar Nazi' around the world (because they'll find so much wrong grammar in it, but WHO THE HELL WHO CARES?)
p.s; tidak berlaku untuk film kartun, end of story.
No comments:
Post a Comment