Saturday, July 20, 2013

"I'd trade all my tomorrows, for just one yesterday"

Hai! Apa kabar? Menurut lo ada bedanya ga postingan gue kali ini? Apa? Gada? Padahal kali ini gue nulis dari sebuah daerah lain di Indonesia. Yap bener banget, gue lagi di Malang, Jawa Timur. Sebenernya emang ga ada bedanya sih, cuman atmosfer pas lagi nulis aja kerasa beda. 

Gue akhirnya memutuskan untuk menghabiskan liburan gue di Malang. Muak sama Jakarta. Muak sama semuanya. Kalo dipikir-pikir rasanya enak juga tinggal di kota kecil kaya gini. Damai. Walaupun rasa beef black pepper steak disini lebih kaya semur daging, tapi selebihnya enak kok. Gue ke Malang naik kereta sendirian. Gue ulangin, SENDIRIAN. Biar ada penegasan kalo gue udah berani pergi ke tempat-tempat jauh sendirian. Gue sebenernya nyamperin kakak gue yang liburan kali ini gabisa pulang ke Jakarta karna harus magang. Selain itu sih, sebenernya ada tujuan lain. Tujuan lain gue kesini adalah untuk memenuhi janji gue. Iya, janji gue pada seseorang kurang lebih 6 bulan yang lalu.

6 bulan yang lalu itu, tepatnya Januari 2013, kakak gue dan pacarnya dari Malang datang ke Jakarta. Selama di Jakarta, gue dan dia-yang-namanya-tidak-usah-disebut-dan-elo-semua-udah-tau nemenin mereka jalan-jalan di Jakarta. Walaupun cuma beberapa hari, tapi bisa dibilang itu adalah hari-hari terbahagia gue sepanjang 2013. Sebelum balik lagi ke Malang, cowo kakak gue sempet ngajak gue dan dia untuk datang ke Malang pada liburan semester genap nanti, dan janji ngajak kita ke Bromo. Gue dan dia pun setuju berencana untuk ke Malang pada liburan berikutnya. Tapi entah kenapa atau gimana, mungkin udah firasat, gue berjanji sama dia "Pokoknya aku liburan semester depan mau ke Malang, with or without you". And here I am now, di Malang, without him

Tapi ternyata dalam waktu 6 bulan semua bisa berubah. Dari sebahagia itu jadi sebahagia rendy. Eh salah deh, itu mah nama junior gue (Maaf ya yang namanya gue pinjem). Intinya, time flies and people change. Mestinya gue ke Malang sama dia. Mestinya dia ada sama gue di kereta selama perjalanan 17 jam Jakarta-Malang. Mestinya dia ada di bangku sebelah gue, bukan malah bapak-bapak mirip Roy Suryo. Mestinya dia ada di samping gue, saat liat pemandangan sawah-sawah luas dari kereta dan bilang "Itu semua kalo jadi beras jadi berapa karung ya". Mestinya dia ada saat liat rumah-rumah kumuh di pinggir rel kereta dan dengan sok tahu mengomentari pemerintah. Mestinya dia ada saat gue ketiduran di sisi jendela kereta dan menaruh kepala gue di pundaknya. Mestinya ada pundaknya dia buat gue. 

Kata-kata 'mestinya' emang dipakai dalam suatu keadaan yang ga sejalan dengan kenyataannya. Kata 'semestinya' dipakai untuk memberi gambaran yang lebih baik daripada kenyataannya, karna kenyataan ga selalu sama dengan kemauan kita.

Tapi intinya gue udah nepatin janji gue ke dia. Masalah dia mau nepatin janji-janji dia ke gue bukan urusan gue lagi.  Dealing with it emang ga gampang, tapi harus. Gue harus menikmati liburan gue disini. Meninggalkan semua yang ada di Jakarta, termasuk semua tentang dia.










p.s; inget ya, nanya "berapa?" itu "piro?" bukan "wani piro?". Ya ngingetin aja sih, kecuali lo mau diajak ribut sama mas-mas Jawa.

No comments:

Post a Comment