Tuesday, September 4, 2012

Si bisu dan pujaan hatinya

Well, judul post gue kali ini emang sedikit aneh. Bukan, ini bukan sekuel kedua dari film Si Buta dari Goa Hantu. Ini sekedar cerita dari pengalaman gue bertemu dengan seorang bisu dimana Ia sangat mencintai sosok pujaan hatinya. Cut the crap, and let this story started..

Terjadi di suatu sore abu-abu menjelang malam, saat gue lagi chillin' sama nyokap di kamar. Tiba-tiba ada suara gaduh, seperti suara gembok yang didentingkan keras ke pagar. Nyokap langsung liat dari jendela, saat itu nyokap ngeliat ada sosok laki-laki, nyokap langsung keluar dan menghampiri tamu tak diduga tersebut.

"Siapa ya, Pak?" tanya nyokap.

Sosok laki-laki tersebut agak pendek, gemuk, pake kacamata dan topi, memakai tas ransel dan membawa plastik berisi barang di tangannya cukup banyak. Ternyata dia bisu-mungkin juga ngga bisa dengar, dia berbicara dengan bahasa yang mungkin ga bisa dimengerti manusia awam. Tapi dia menunjukkan sebuah buku yang didalamnya ada sebuah alamat dan nomer telfon. Singkat cerita akhirnya dia pengen diantar ke alamat situ, nyokap pun menyilahkan laki-laki itu duduk dan kasih minum. Terus nyokap bantu dengan menelfon nomor yang ada di alamat tersebut. Setelah nyokap nelfon empu-nya nomor tersebut, barulah nyokap ngerti. Nyokap pun menjelaskan kepada laki-laki itu, yang pada akhirnya laki-laki itu menitipkan plastik yang berisi barang-barang tadi ke nyokap dan permisi untuk pulang.

Setelah dia pulang, gue baru nanya. Ternyata pemilik nomor telfon tersebut adalah seorang wanita bernama Dewi, yang berprofesi sebagai supir bus transjakarta. Usut punya usut, laki-laki bisu tadi ternyata sangat mengagumi sosok wanita yang menjadi supir bus transjakarta, pada kali ini, si Ibu Dewi tadi. Ibu Dewi berkata di telfon bahwa ia sedang tidak ada dirumah, maka dari itu laki-laki tadi permisi pulang dan menitipkan barang-barang ke nyokap gue. Isi plastik tadi antara lain; popcorn 3 kantong (mungkin buat Dewi kalo lagi nyupir trus pengen ngemil), sarung merk Mangga Gold (katanya buat suaminya si Dewi ini), walking board/papan jalan (katanya buat Dewi mencatat keperluan saat sedang menyupir), yang terakhir pengharum mobil (katanya buat di bus yang sedang Dewi kendarai, supaya dia merasa segar).

Mungkin bagi Dewi hal ini annoying, buktinya barang-barang tersebut sampai sekarang masih ada dirumah gue. Padahal pada malam itu ia berjanji akan datang kerumah gue (yang rumahnya terletak ga jauh dari rumah gue) untuk mengambil barang-barang tersebut. Tappi disatu sisi gue dapat ngerasain besarnya kekaguman laki-laki bisu tadi kepada pujaan hatinya. Menurut gue dia ngasih barang-barang yang ga lazim (untuk diberikan kepada seorang cewe), tapi dia memikirkan hal yang paling cewe itu perlukan. Dia peduli pada hal-hal yang ga orang lain mungkin peduli (sebut aja papan jalan).

Mungkin laki-laki tersebut tahu bahwa Ia tidak bisa akan berlaku lebih kepada sosok pujaannya, mungkin ia tahu bahwa ia tidak dapat mengatakan kata-kata indah kepada pujaannya, tetapi Ia tetap berperilaku sesuai nalurinya. Mengungkapkan kekagumannya dengan memberikan barang-barang yang Dewi butuhkan, tetapi mungkin tidak Dewi inginkan.

Gue agak terharu campur miris melihat kejadian tersebut. Walaupun gue bicara dan mendengar dengan baik, tapi mungkin gue ga punya hati sebesar laki-laki bisu tadi. Gue lebih sering memikirkan apa yang gue inginkan, bukan gue butuhkan. Gue bersyukur karna gue bahagia, bukan bahagia karna gue bersyukur.












2 comments:

  1. Banget sha, apalagi kalo liat muka laki-laki bisu yang kayanya ihklas dan sumringah banget :)

    ReplyDelete